Top

SEJARAH PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH

SEJARAH PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH

Oleh: Duwi Miyanto, M.Pd.I

Dalam mewujudkan dan memperjuangkan kemuliaan Islam dibutuhkan usaha yang nyata. Hali ini berawal ketika pada tahun 1900 atau Abad ke-20. Amat besar cita-cita umat Islam yang harus diperjuangkan melalui alat perjuangan yang bernama organisasi. Saat itu kondisi umat yang jauh dari ruh Agama yang sebenarnya, masih banyak yang mencampuradukkan antara ajaran Islam dengan tradisi dalam pelaksanaan/implementasi ibadah. Seperti upacara pembersihan sesaji, khaul, bersih desa dan nyadran yang sejatinya menjadikan tradisi jawa dianggap masyarakat sebagai ajaran Islam karena telah dibumbui dengan doa-doa dalam setiap penyelenggaraannya.

           Melihat tradisi tersebut, H. Ahmad Dahlan tampil sebagai seorang Sang pencerah dalam Islam dengan tidak hanya langsung merubah tradisi itu, akan tetapi beliau melakukan kajian terlebih dahulu secara mendalam. Baru kemudian menetapkan dan melahirkan organisasi sebagai alat perjuangan. Kemudian diberi nama”Muhammadiyah” pada tanggal 18 November tahun 1912. Organisasi itu berdiri setelah beliau kembali dari kairo mesir kuranglebih selama 13 tahun. Ketika belajar beliau bertemu dengan para syekh atau guru dari Timur tengah. Bertemulah beliau dengan tokoh pemikiran seperti; Muhamad.Abduh penulis kitab Al-Manar, Jamaludin al-Afghani penulis kitab Tafsir, para pakar ahli kitab Hadist.

           Diantaranya adalah Salah satu buku dari Muhamad Abduh yang berjudul AL-Urwatul Wustqo”. Ahmad Dahlan yang dikenal sebagai Muhamad Darwis, ia suka menimba ilmu suka menghadiri majelis-majelis ilmu, dan yang berkesan saat beliau mengkaji Al-urwatul Wutsqo; menemukan tentang istilah Tajdid al-fikri yang berarti pembaruan pemikiran. Kemudian istilah purifikasi: yakni pemurnian ajaran agama Islam. Skema itu menunjukkan bahwa modernisasi pendidikan Abduh berangkat dari penafsiran al-Qur’an secara komprehensif. Al-Qur’an dan Hadis ditempatkan sebagai sumber hukum paling tinggi dalam setiap pemikiranya. Lalu karena, manusia dikaruniai akal untuk memahami Islam, dan selalu menghadapi problema kehidupan modern yang semakin kompleks. Maka dengan akal itu manusia mampu mengatasi segala problema dengan jalan Ijtihad. Dengan akal pula manusia selalu bisa memperbarui ke Imanannya melalui pemahaman yang selalu mendalam tentang Tuhan, manusia dan Alam semesta. Dengan bekal berani berijtihad dan niat selalu memperbarui iman tersebut akan menumbuhkan semangat pembaharuan.[1]

           Menurut H.Ahmad Dahlan, pemikiran tersebut bisa menjadi rujukan untuk dapat diterapkan kepada pendidikan di Indonesia, Beliau ingin menggabungkan antara pelajaran Umum dengan pelajaran Agama Islam. Kemudian menjadi pelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Sehingga dalam belajar pendidikan di Muhammadiyah ada pelajaran Umum dan Ismuba. Isi pelajaran Ismuba adalah Aqidah, ibadah, Akhlaq, Tarikh, Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab.

           Seiring berjalannya waktu setelah selesai menimba ilmu, kembalilah beliau ke Indonesia. Di negara Indonesia khususnya awal abad ke-20 khususnya penduduk jawa, maka didapatilah tiga golongan yaitu; kaum santri, priyayi dan abangan. Satu, golongan santri ini, adalah kaum yang taat dalam mengamalkan ajaran agama sesuai dengan syariat Islam. kedua Golongan priyayi digunakan sebagai istilah orang yang memiliki tingkat sosial yang lebih tinggi. Contohnya, kaum bang sawan atau ningrat. Ketiga, golongan abangan adalah kaum muslim yang menjalankan ajaran Islam dengan mencampuradukkan dengan adat istiadat. Namun dalam kondisi sosial seperti itu, termasuk golongan priyayi dan santri tidak banyak jumlahnya dibandingkan dengan mereka yang tergolong kaum abangan.

            Awalnya beliau, mengajar dengan dakwah Amar ma’ruf nahi munkar. Banyak masyarakat yang mau belajar dengan H.Ahmad Dahlan. Kemudian oleh ayahnya disuruh mengajar dirumah, hingga memiliki pondok pesantren. Tidak berapa lama pesantren beliau dibakar, akan tetapi beliau tidak pernah mundur dan terus mengajar. Karena sudah mmiliki komitmen besar untuk bisa mewujudkan impiannya. Dibutuhkan alat sebagai perjuangan baru muncullah nama organisasi Muhammadiyah. Karena pada massa itu ada Sikap kepercayaan kepada Takhayul, bid’ah dan khurofat.[2] Pertama, Takhayul pengertiannya yaitu mempercayai bahwa ia akan mendapatkan suatu Rezeki ketika orang tertimpa kotoran Cicak, atau kupu-kupu didalam rumah yang dianggap akan ada Tamu yang mau datang. Kedua Bid’ah adalah menambah-nambah (membuat-buat) sesuatu yang baru di dalam ibadah yang jelas-jelas tidak ada tuntunannya dalam agama. Ketiga, Khurofat ini kalo kita kaji lebih dekat kepada perbuatan syirik. Akibatnya akan membahayakan pada akidah seseorang. Khurofat adalah suatu kepercayaan dengan tanpa pedoman yang sah, sebagai contoh yakni menganggap sesuatu itu memiliki sebuah kekuatan yang bisa mempengaruhi jiwa pada manusia tersebut.

             Dalam rangka dakwah amar ma’ruf nahi munkar, KH. Ahmad Dahlan tampil sebagai pembaharu sang pencerah agama Islam. Adapun dasar yang menjadi sumber yakni: al-Qur’an surat al-Imron ayat 104. Artinya:”Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”.Pada ayat tersebut menunjukkan bahwa, KH.Ahmad Dahlan mengajak untuk kembali kepada kemurnian tauhid dan mengajak kepada kita supaya menjauhi sikap mempercayai pada sesuatu tanpa ada dasar-dasar hukum syar’i. Serta untuk menghidupkan kembali kepada semangat melakukan dan melaksanakan atau implementasi pembaruan. Sehingga untuk dapat mewujudkan cita-cita tersebut beliau mendirikan organisasi persyarikatan Muhammadiyah yang hingga saat ini telah meninggalkan sesuatu berupa dakwah melalui berbagai bidang dalam bidang pendidikan hingga memiliki sekolah atau madrasah. Bidang kesehatan, memiliki rumah sakit PKU Muhammadiyah. Dalam bidang sosial, mampu menyelenggarakan panti asuhan untuk orang miskin, dan panti jompo. Adapun visi, misi yang dimiliki oleh Muhammadiyah.

               Visi Muhammadiyah, secara bahasa visi berarti penglihatan, pandangan dan impian. Sedangkan pengertian istilahnya adalah tujuan bisa juga gambaran masa depan yang akan diraih didalam waktu yang telah ditentukan. Adapun visi dari organisasi Muhammadiyah adalah terbentuknya manusia yang bertakwa, berakhlak, berkemajuan dan unggul dalam ilmu Pengetahuan, Teknologi dan seni sebagai wujud dari tajdid dakwah amar ma’ruf nahi ‘anil munkar. Selain itu juga memiliki misi, yakni sebagai suatu pernyataan tentang langkah-langkah yang harus dilaksanankan sebagai bentuk dari usaha yang nyata dan penting guna bisa mewujudkan daripada visi organisasi.

              Misi yang dimiliki oleh Muhammadiyah adalah: 1) Mendidik manusia mempunyai kesadaran ketuhanan . 2) Membentuk manusia berkemajuan yang memiliki semangat perubahan dalam berpikir cerdas  dan berwawasan luas, 3) Mengembangkan potensi manusia berjiwa mandiri, memiliki semangat kerja yang tinggi, wirausaha dan jujur. 4) Membina peserta didik agar menjadi manusia yang mempunyai kecakapan hidup dan keterampilan sosial, teknologi, informasi dan komunikasi

                Rujukan dalam pendidikan di Muhammadiyah, yakni merujuk pada nilai-nilai yang bersumberkan dari al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW. Hingga pada saat sekarang pendidikan di Muhammadiyah mengalami kemajuan, dari tahun 1912 hingga era Android. Pendidikan Muhammadiyah mengedepankan amal yaitu dalam menghidupkan prinsip pembaharuan (tajdid) inovasi dalam menjalankan amal usaha pada bidang pendidikan.Serta memperhatikan prinsip keseimbangan moderat dalam mengelola lembaga pendidikan antara akal sehat dan kesucian hati. 

                Disamping mengembangkan model pendidikan, Muhammadiyah juga mempunyai ciri khas tersendiri yang bisa dijadikan pembeda antara sekolah madrasah Muhammadiyah dengan yang non Muhammadiyah. Ciri khas itu merupakan pelajaran al-Islam, Kemuhammadiyahan dan bahasa Arab yang disingkat ISMUBA. Di sekolah/madrasah non Muhammadiyah, mungkin sudah ada yang diajarkan, akan tetapi  tidak bagi pendidikan kemuhammadiyahan. Karena itu untuk penguatan pemahaman keislaman, keterampilan bahasa Arab dan nilai-nilai diajarkan dalam pendidikan kemuhammadiyahan, maka pendidikan Ismuba itu telah ditetapkan sebagai mata pelajaran wajib bagi seluruh peserta didik di sekolah Muhammadiyah atau madrasah Muhammadiyah.

 

[1] Prof.Dr.H. Jalaludin.”Teologi Pendidikan.JKT: Rajawali pers 2001. H.90-91

[2] Ade Benih Nirwana,SS., M.S.Ipendidikan.”Kemuhammadiyahan SMP/MTs Muhammadiyah”,PT.Percetakan Muhammadiyah GRAMASURYA. Sonosewu Yogyakarta. 2017

Partner :

Talk to us

024 3511901